Aku menyadari bahwa posisiku memang bukan yang terbaik, tapi aku baik. Lalu kenapa banyak yang mempermasalahkan itu? Bahkan nuraniku sendiri mentang pemikiranku-- itu yang kurasa ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku tidak mampu menangani sesuatu hal di luar kehendakku, ya kehendak Tuhan.
Lalu, kenapa serta merta batinku teriak HARUS?
Ini mengingatkanku akan tempo dulu, ini berawal dari tempo dulu.
Aku tak menyangkal, bahwa aku memang haus akan hingar bingar, life-style, dan semua yang bergelimangan dengan harta. Bukankah ini abad 21? Bukankah kau harus hidup dengan Gadget yang berkesesuaian bahkan harus yang paling mutakhir jika kau tidak ingin di anggap remeh? Bukankah kau harus bergaya 'perlente' jika kau ingin mendapatkan teman yang banyak? Bukankah semua itu membutuhkan harta?
IYA. Semua berasal dari lima huruf terkutuk itu. Aku melakukan apa-saja yang bisa aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Tetapi aku tetap berada dijalan Tuhan meski aku bukan sosok yang sangat agamis, dibandingkan dengan kakak kedua perempuanku. Atau hanya aku saja yang menganggap itu masih dijalan Tuhan ketika aku harus memanjangkan tanganku ke 'pundi' orang lain? OH! Bahkan aku tak mampu mengucapkan bahwa aku telah mencuri sebagian harta orang lain untuk berpenampilan elite didepan teman-temanku.
Bukankah aku telah keluar dari jalanMu, Tuhan?
Bukankah aku berdosa dan aku harus dihukum?
Lalu, kapan hukuman itu Kau berikan kepadaku?
Karena aku mengharapkan itu, hukum aku semauMu, pekikku dalam keheningan malam, tapi tidak dalam bersimpuh.
Masih pantaskah aku?
Tuhan, dimana Engkau ketika aku HARUS mendapatkan apa yang ku mau?
Bukankah ketika aku berdoa, dan Kau akan mengabulkannya? Bukankah Engkau itu Maha Penyayang? Tidakkah Engkau memiliki kasih terhadapku? Atau, Engkau terlalu sibuk mengabulkan doa-doa orang beriman?
TIDAK!!
Saat itu juga aku berpaling dari 5 huruf Yang Agung.
T-U-H-A-N,
lalu
aku hidup dalam ketersesatan yang tak berujung, dan mendapati
diri ini telah menjadi manusia yang nista.
Nista untuk hidup...
Entah mengapa kisah tempo dulu selalu menarikku kedalam pusaran air yang kencang, kerap membawa aku hanyut dan terus berputar hingga aku tenggelam tak berdaya.
Kesalahan dulu kerap memperkosa setiap cairan dalam otakku, membuat aku lemas tak berdaya dan terus memikirkan kenikmatan sementara yang mencemarkan noda dibatinku.
Bahkan, ketika aku harus bilang tidak terhadap masa laluku, entah mengapa aku menjadi orang yang benar-benar sadar dalam tindakanku yang lampau dan terus mempertanyakan dimana keberadaan Tuhan.
Tidakkah, Dia seharusnya mencegahku dan mengingatiku? Kemana Dia, ketika aku dengan ligat melancarkan aksiku?
Aku bukan tipe manusia yang begitu agamis untuk menjawab semua pertanyaan yang kerap berkecamuk di otakku, tapi aku tau, Tuhan hanya begitu baik menutupi segala kesalahan dan aib-aibku untuk tidak diketahui oleh orang lain.