Jumat, 30 Maret 2012

Basic Wandlore (S,H)


Mayoritas dalam pemikirannya siang itu adalah bagaimana dia bisa menghadiri kelas dan menghadapi anak-anak Slytherin. Oh, mungkin dia akan bertemu bocah berambut pirang disitu, Leon hanya penasaran apakah bocah tersebut sangat penasaran dengan keadaan Leon belakangan ini, atau tetap berpura-pura tidak ingin mengetahui kabar dirinya? (Liam, kau sungguh akan mati jika berpikiran begitu).

Kamis, 14.00.

Pendidikan Tongkat Sihir Dasar. Yah, mungkin Professor akan mengajari bagaimana mengayunkan tongkat sihir, bermain-main dengan dengan sihir, atau membagikan tongkat sihir? Leon tak terlihat begitu tertarik, kehadirannya di kelas tentu tidak akan di sadari siapapun, anggap saja memang begitu tingkahnya. Suka berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Saat kakinya melangkah masuk, tanpa ada satu kata yang terlontar dari bibirnya, dia duduk di kursi paling belakang. Menghindari aktifitas kelas? Tidak sepertinya. Cuma saja, jika dia sudah cukup muak dengan topik kelas ini, mungkin dia akan melangkah keluar. Seperti biasa, tanpa di ketahui yang lainnya.

"Mayoritas dari kalian berasal dari keluarga penyihir jadi saya asumsikan kalian sudah tahu apa itu tongkat sihir."—tongkat sihir? Itu yang selalu menjadi hidupmu bukan? Selain nyawa yang melekat di badanmu, tentu saja. Seluruh anggota masonnya mayoritas adalah penyihir, bahkan Louis tidak mau memperbudak pekerjanya, kalau tidak memiliki latar belakang keluarga penyihir. Louis. Entah mengapa Leon begitu mirip dengan ayahnya, selain sifat temperamental yang sering berubah-ubah itu.

“Menurut saya, mengapa tongkat sihir itu dikatakan penting adalah karena tongkat sihir itu sendiri adalah ciri khas penyihir. Tanpa tongkat sihir, penyihir bukanlah penyihir, karena penyihir tidak dapat menyihir tanpa tongkat sihir—well, walaupun ada yang namanya Sihir Tak Disengaja—tapi, seperti yang dikatakan Sutton, tongkat sihir itu seperti...,”—oh, mengapa begitu berbelit? Seorang Politikus Ravenclaw? Leon mendongak, memandang bocah lelaki itu, ternyata di kelas Slytherin ada pemuka politik ya? Senyumnya tipis. Dia tidak bermaksud begitu, hanya saja Leon memang begitu.

Setelah mendengarkan jawaban impulsif dari bocah Slytherin, yang dia yakini itu adalah David Hogg, mendengar jawaban ringan teman asramanya Galadriel Wardlaw, tidak cukupkah Professor di depan ini merekap semua pernyataan? Haruskah Leon mengacungkan tangannya juga, memberi pendapat yang sama? Kegitan ini harus dia ulangi berkali-kali agar terlihat seperti anak sekolahan—memang seharusnya begitu.

“Please, Sir.” Tangannya mengudara, “Sihir, adalah salah satu hal yang tidak bisa kita kontrol dengan tangan kosong. Penggunaannya bisa saja fatal bahkan untuk penyihir yang sudah berpengalaman sekalipun. Maka itulah, kenapa tongkat sihir adalah bagian paling fundamental bagi para penyihir. Mungkin benar apa yang di katakan Miss—“dia tidak mengenali gadis itu—“bahwa, setiap dari kita di ruangan ini pernah melakukan Sihir-Tak-Disengaja. Yang sekali lagi—“ Leon mearik napas pelan.”—mungkin bisa menyebabkan kerugian. Bukan maksud membenarkan, tapi Professor, tongkat sihir adalah salah satu substansi yang paling dibutuhkan, tidak hanya kekuatan yang berbeda terkandung  didalamnya, tapi karena memang setiap penyihir membutuhkan tongkat sihir.” Seperti udara. Leon menatap datar Miss.Wardlaw.

“Leonard Lightdarker. Huffl—“ napasnya tersengal, kalimatnya tercekat di batang tenggorokannya, masih saja mengingat sorting hat saat dia mengucapkan asrama ini, “—Hufflepuff, Sir.”

 Lightdarker, Leonard.


Minggu, 25 Maret 2012

HOGWARTS HOUSE



Gryffindor
Gryffindors are often those blogs that you see adding their own commentary to every post they make, original or reblogged. They often do this within the actual post itself, rather than in the tags, because that makes it more clear, and that is what they want. Gryffindors want to be noticed, and they want their opinions shared, and blogging is a very simple way to do that. Gryffindors are also very commonly reblogging about issues they care about, and doing this constantly and without any shame. Their strong values come into play with this, and they are this way not only with real life issues but with fandom. If they love a specific movie, ship, or what have you, they will show it; if you feel the need to bash that thing on their dash, you’ll never hear the end of it. Gryffindors being social, also want to have many followers and recognition. Not necessarily to have the most followers (though they appreciate that a lot, also), but because they enjoy having a large array of people in which to speak with. 

Hufflepuff
Not unlike Gryffindors, what you find on the blog of a Hufflepuff will be what you would find in their heart. They are things they care about, issues or things that may seem trivial but have some form of deeper meaning to them. They will often not express this meaning in a direct and blunt form, because they feel uncomfortable doing that. They mostly want their blog to be a welcoming place, and appreciate every follower they get because they feel as though their blog represents all that they enjoy, and through their followers they feel approval. That said, Hufflepuffs don’t pull punches either, and aren’t going to post about things they don’t care for, or vice versa not speak on things they are concerned with. Everything a hufflepuff does is a piece of them, and that includes blogging. Though they may not be quick to socialize with others, if you are to communicate through a hufflepuff via their blog, they will be incredibly friendly and welcoming to you.

Ravenclaw
Ravenclaw bloggers do not often let the ideas and views of others get in their way. Ravenclaws are naturally intellectual artists, and everything which they have is a canvas, including a blog. They may not have the busiest blog at times, because they don’t want to reblog or post everything in sight. If they enjoy it, it makes clear sense to them and they find it stimulating, then they will, but they think it through as they do with everything. They are not shy to give their opinions, but they are often a bit more blunt in this area than would be a Gryffindor or Hufflepuff. They will put their most notable points within a post, and leave the details either unsaid or in the tags. A blog to them is what is important, so they don’t want theirs to be at all trivial. Followers are not a large concern for them, but those that they do have they will treat with consideration and accommodation.

Slytherin
Aside from Gryffindors, many more well known blogs on tumblr are run by bloggers whom are Slytherins. This is due to not only their ambition, but their natural ability to impress. Slytherins are very sure to keep with their own ideas, but they will also glitter them to the fullest extent, making them appealing even to the most hesitant of persons. This makes them have a draw that many others enjoy. Slytherins are as strongly into saying what they think as are Gryffindors, however they are a bit more subtle about it. You will often find snakes with a swarm of tags under their posts, because that is where they would rather vent instead of cover a post with words; this counts even more so if said post is a graphic or photoset. Aesthetics is a very pleasant thing, and this means a Slytherin blogger will often be well organize and have everything looking clean and precise. Slytherins enjoy having plenty of followers because it makes them feel more sure in themselves, though they also have no problem losing some if it is for good reason. They have a hard time sugar coating things, but they still do appreciate those who are kind to them, and try to be as cordial as possible. 

source: click

Our Deepest Desire

Baginya, bertemu seseorang disaat seperti ini, tidaklah sebuah malapetaka. Pagi itu masih dingin, dan kabut perlahan menipis. Matahari sedikit merona, Leon memejamkan matanya. Mungkin sangat epik, kalau saja Leon membuka matanya, dan yang dia lalui beberapa minggu ini adalah mimpi buruknya yang sedikit manis. Leon tertawa hambar, ketika matanya terbuka sosok pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah bocah itu. Sungguh dia benci kenyataan seperti ini.

Apa yang dia rasakan, mungkin sedang Lex rasakan. Atau bocah ini sedang tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak berbicara. Leon sangat menghormati seseorang yang sedang membutuhkan teman bicara. Hanya saja Leon bukan seseorang yang mampu memberikan saran yang baik tentang kehidupan. Lexus memamerkan wajah tanpa ekspresi. Setiap air wajahnya tergurat pertanyaan yang tak mampu Leon tebak. Ah! Seorang Lexus, tidak mungkin berekspresi seperti ini, dia mengingat tempo lalu, Lexus lah yang paling bersemangat melayani perbincangan gadis-gadis di common room asramanya. Tidak, tidak. Siapa bocah ini? Leon menatap Lexus dengan tatapan datar sejenak, pandangannya di lemparkan jauh kearah danau yang pekat. Sangat pekat. Leon tertawa kecil. Apakah tidak cukup baginya selama ini?

"Apakah keinginan terdalam mu?"

DEG…

Leon tersentak. Wajahnya berubah dingin, tatapannya kosong. Pemikirannya campur aduk, antara mau menjawab pertanyaan tak mendasar itu dan mau meninggalkan bocah ini sendiri dengan pertanyaan yang mengambang di udara lembab ini. Leon memutarkan badannya, beralih menatap bocah itu dalam. Sungguh kenapa dia menemukan bocah yang mengajukan pertanyaan seperti itu di pagi minggu?

“Entahlah… aku—“
Tenggorakannya tercekat, seperti ada ruang hampa udara di dalamnya. Dia tak mampu meneruskan jawabannya sementara. “—aku tidak mengerti maksudmu, Lex. Ada begitu banyak keinginanku, selama hidup ini. Begitu banyak pencapaian yang aku raih, dengan mudah. Tapi, aku masih tidak mengetahui apa keinginan terdalamku.” Leon mengalihkan pandangannya, dia tidak mau menatap manik itu, manik yang terpaku pada wajah Leon. Wajah yang memanerkan kelemahan yang dia sembunyikan.

“kau—kenapa?” kalimat itu terlihat datar, dan seadanya. Leon tau pasti, Lex mungkin tidak mengharapkan kehadirannya disini. Tapi, mereka sedang berbicara sekarang. Tepat disaat matahari mulai merona malu.

Jembatan,
TimeLine: Minggu, 13 September 1975
Pukul 05.55 am

Jumat, 16 Maret 2012

Seleksi Asrama

Melalui tiga jam dengan segala rangkaian kegiatan yang tidak bisa kau bayangkan sebelumnya adalah melelahkan. Tampilannya tak serapi saat pintu terowongan tertutup, jubahnya kusut di bagian lengan, surai coklatnya terjatuh lemas; begitu pula dirinya, lemas setelah menghadapi terowongan gelap gulita, lemas setelah menjadi buta dan tuli selama satu menit yang ia anggap sebagai satu menit didalam neraka. Dan lemas melakukan perjalanan untuk sampai ke kastil.

Dan kini? Dia hanya berdiri ditengah-tengah sekumpulan bocah yang menunggu namanya dipanggil, membahana seantero aula. Pandangannya tersapu ke seluruh penjuru aula, matanya menatap langit-langit indah yang terbentang. Langit-langit aula membentangkan pemandangan yang jernih, terlihat begitu nyata seperti di luar kastil yang megah. Lalu pandangannya terpaku pada meja-meja kayu yang panjang, namun tidak pada penghuni yang menempati meja panjang itu, tidak menarik perhatiannya sama sekali. Pandangan datarnya kembali menyapu seluruh makhluk hidup di depannya, mengapa semua orang terlihat sama sekali tidak menarik baginya? Bukankah sang Head Master terlihat begitu kharismatik untuk disimak pidatonya tentang seleksi murid-murid baru? Entahlah, yang ada dalam setiap cairan otaknya hanya merebahkan tubuh dan memejamkan matanya, bermain-main di alam bawah sadar, bertemu sosok lain, dan terbangun di kediamannya bertemu dengan orang yang dikenalnya; tidak, tidak seperti orang-orang ini. Pandangannya kembali menatap datar, kembali bertingkah menjadi pendengar yang baik.

Satu-per-satu calon murid telah dipanggil, oleh siapa? Topi ? Baiklah, oleh topi. Disebelahnya, Lightdarker muda lainnya—William, berdiri sedikit panik. Entah apa yang ada di dalam tempurung kepala bocah itu, matanya nanar menatap satu per satu murid yang berdiri di dekatnya, termasuk Leon dan korban lainnya adalah si blonde bayaran. Leon tak mau menatap sepupunya yang mengenaskan itu, korban ruangan sempit. Dia kembali menatap sepatunya yang sedikit berdebu, menanti nama Lightdarker disebut-sebut. Bosan. Bosan mendengar bisikan halus calon murid lainnya, menceritakan bagaimana nanti kau akan terpilih. Bosan mendengarkan kepanikan sunyi dari gerak-gerik sepupunya. Bosan berdiri seperti seorang pengawal yang menunggu majikannya latihan memanah. Leon hanya menatap datar. Pandangannya kosong, sesekali dia bertepuk tangan pelan, mengikuti gemuruh berpuluh-puluh pasang tepuk tangan yang membahana aula besar.

“Lightdarker, — “
Kakinya bergesar satu senti, menegakkan kepala, dan senyumnya tipis. Bahagia meninggalkan kerumunan calon murid, Leon kembali dengan wajah dinginnya..

“—William Andreas.”

Leon menatap William tanpa kedip. Sepupunya meninggalkannya di tengah kerumunan ini? Yang benar saja. Leon meringis kesal. Harus berapa lama dia berdiri seperti ini? Memikirkan bagaimana kerja topi seleksi—membaca pikiran? Mau menilik yang ada di kepala Leon saat ini? Silahkan. Tidak menutup kemungkinan saat topi seleksi membaca pikirannya, yang ada hanya kasur dan busur panahnya.

“Lightdarker, Leonard Keanu Lyne.”

Finally” Leon memantapkan langkahnya, berjalan dengan langkah sedikit di percepat. Mematrikan wajah datar dan angkuh. Alih-alih matanya terpaku kepada seseorang disana, menarik perhatiannya. Topi itu berada tepat diatas kepalanya, mungkin sedang mengintrogasi setiap cairan dalam otak Lightdarker muda ini. Pikirannya berputar keras, seperti menampilkan seluruh foto kenangan, begitu banyak sejarah. Sejarah tentang Hogwarts, empat pendiri agung yang selalu menjadi cerita yang di ulang-ulang oleh kedua orang tuanya. Sejarah tentang seseorang yang memiliki watak bijak. Sejarah Lightdarker.

Cepatlah. Jangan kau menempatkan aku di asrama yang tidak aku inginkan. Yang aku butuhkan hanya ruangan yang cukup tenang untuk tidak mendengar seluruh omong kosong ini, lagi.


 that there is no way to rationalize

Sabtu, 12 November 2011

ketika aku harus bilang tidak.

TIDAK. 
Aku menyadari bahwa posisiku memang bukan yang terbaik, tapi aku baik. Lalu kenapa banyak yang mempermasalahkan itu? Bahkan nuraniku sendiri mentang pemikiranku-- itu yang kurasa ketika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa aku tidak mampu menangani sesuatu hal di luar kehendakku, ya kehendak Tuhan.

Lalu, kenapa serta merta batinku teriak HARUS? 

Ini mengingatkanku akan tempo dulu, ini berawal dari tempo dulu.

Aku tak menyangkal, bahwa aku memang haus akan hingar bingar, life-style, dan semua yang bergelimangan dengan harta. Bukankah ini abad 21? Bukankah kau harus hidup dengan Gadget yang berkesesuaian bahkan harus yang paling mutakhir jika kau tidak ingin di anggap remeh? Bukankah kau harus bergaya 'perlente' jika kau ingin mendapatkan teman yang banyak? Bukankah semua itu membutuhkan harta?

IYA. Semua berasal dari lima huruf terkutuk itu. Aku melakukan apa-saja yang bisa aku lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidupku sendiri. Tetapi aku tetap berada dijalan Tuhan meski aku bukan sosok yang sangat agamis, dibandingkan dengan kakak kedua perempuanku. Atau hanya aku saja yang menganggap itu masih dijalan Tuhan ketika aku harus memanjangkan tanganku ke 'pundi' orang lain? OH! Bahkan aku tak mampu mengucapkan bahwa aku telah mencuri sebagian harta orang lain untuk berpenampilan elite didepan teman-temanku.

Bukankah aku telah keluar dari jalanMu, Tuhan?

Bukankah aku berdosa dan aku harus dihukum?

Lalu, kapan hukuman itu Kau berikan kepadaku?
Karena aku mengharapkan itu, hukum aku semauMu, pekikku dalam keheningan malam, tapi tidak dalam bersimpuh.

Masih pantaskah aku?

Tuhan, dimana Engkau ketika aku HARUS mendapatkan apa yang ku mau?
Bukankah ketika aku berdoa, dan Kau akan mengabulkannya? Bukankah Engkau itu Maha Penyayang? Tidakkah Engkau memiliki kasih terhadapku? Atau, Engkau terlalu sibuk mengabulkan doa-doa orang beriman?

TIDAK!!

Saat itu juga aku berpaling dari 5 huruf Yang Agung.
T-U-H-A-N,
lalu
aku hidup dalam  ketersesatan yang tak berujung, dan mendapati
diri ini telah menjadi manusia yang  nista.
Nista untuk hidup...


Entah mengapa kisah tempo dulu selalu menarikku kedalam pusaran air yang kencang, kerap membawa aku hanyut dan terus berputar hingga aku tenggelam tak berdaya.

Kesalahan dulu kerap memperkosa setiap cairan dalam otakku, membuat aku lemas tak berdaya dan terus memikirkan kenikmatan sementara yang mencemarkan noda dibatinku.

Bahkan, ketika aku harus bilang tidak terhadap masa laluku, entah mengapa aku menjadi orang yang benar-benar sadar dalam tindakanku yang lampau dan terus mempertanyakan dimana keberadaan Tuhan.
Tidakkah, Dia seharusnya mencegahku dan mengingatiku? Kemana Dia, ketika aku dengan ligat melancarkan aksiku? 

Aku bukan tipe manusia yang begitu agamis untuk menjawab semua pertanyaan yang kerap berkecamuk di otakku, tapi aku tau, Tuhan hanya begitu baik menutupi segala kesalahan dan aib-aibku untuk tidak diketahui oleh orang lain.

Jumat, 19 Agustus 2011

Bagaimana jika?

Tidak pernah berpikir untuk merasa sedikit peduli dengan hingar-bingar modernisasi ini dan itu. Iya. Tidak pernah peduli. Bagaimana jika modernisasi yang membawa kamu selalu melintasi batas terjauh kehidupan? Hanya pola pikir yang sedikit extreme menurutku. Iya. Menurut aku.


Bocah-bocah yang cenderung terpengaruh, selalu menganggap ini dan itu serta segala macamnya WAH!
BENAR? atau SALAH? Hanya entitas yang memiliki pola pikir yang tidak statis yang menganggap topik ini TIDAK PENTING. IYA. TIDAK PENTING. Atau semacam entitas yang cenderung memiliki pola pikir subjektif? yang tidak pernah memikirkan bagaimana plot kehidupan itu ada. Bagaimana jika aku yang cenderung menganggap ini sepele? TIDAK PENTING.


Topik yang mem-booming itu adalah percintaan, SIAPA YANG TIDAK SETUJU? Kau? Atau kau?.
Ini dan itu, sedikit cinta, sedikit perselingkuhan, sedikit perceraian, dan sedikit pengkhianatan. Dan selalu menitik beratkan kepada pengorbanan. Cih. Pengorbanan seperti apa? Pengorbanan yang selalu kau anggap itu adalah jalan terbaik, lantas membiarkan satu atau dua permasalahan terselesaikan (menurutmu?) tanpa adanya solusi dikemudian hari? Persetan dengan pengorbanan. Aku lebih menganggapnya dengan kamuflase pelarian dari sisi pengecut yang tidak pernah timbul di raut wajah kau, mereka, bahkan kalian.


Iya. Itu yang ditimbulkan oleh percintaan yang cenderung membuat seseorang hilang dari grafitasi bumi. Mengharapkan bulan terus purnama, sehingga bisa bercakap-cakap santai tanpa ada yang menggangu dari balik jendela usang. Lalu memaksa  bulan terus menyunggingkan kurva terbuka sehingga melahirkan senyum palsu ketika kau membayangkan wajahnya. Berdiam diri dan terus menatap wajah berbingkai itu di pojok meja yang mumut ketika rindu terus melolong tanpa henti. Cih. Iya. SEBUAH KEGILAAN. Menurut siapa? Aku? Kamu? Mereka? atau Kalian?


Bagaimana jika ini hanya sebuah fatamorgana yang tidak bisa kau sentuh sedikitpun kamuflase kebahagiaanya? 
Bagaimana jika ini hanya hingar-bingar pelengkap untuk melubangi jalan hidupmu sehingga akan merasakan guncangan setiap rodamu berputar?
Dan bagaimana jika percintaan itu adalah sesuatu yang nista dan tidak patut untuk kau perjuangkan?


Yayayaya, mungkin hujatan akan pertanyaan sekilas tadi. Persetan dengan 'bagaimana jika?'.
Aku hanya enggan merapalkan tiap huruf nama itu ketika rindu kembali melolong. cih. Kembali, aku cuma sebagai entitas yang masih memunafikkan akan perjalanan yang tidak tentu ini (bilang saja aku korban dari kata percintaan). Dan tidak mau menyisipkan kata-kata percintaan yang cenderung melahirkan luka menganga ketika aku mendekatinya. Iya. LUKA. Lantas???

Minggu, 14 Agustus 2011

saya pernah SMA..

SMA itu di ibaratkan masa-masa paling yang menyusahkan dalam hidup. SALAH !
SMA itu seperti kita yang bisa disebut personil sehidup semati, yang rela berkorban apapun demi teman. Tapi tidak untuk aku di zaman kelas satu SMA.


DULU, nyasar di kelas satu A. yang isinya makhluk-makhluk bagai dewa otaknya. Entah ga tau begimane aku bisa nyasar masuk ke kelas Olympus itu. Thanks buat buk Mashayati yang telah menendang bokong aku masuk ke kelas ini yang ujung-ujungnya punya nama ATMOSTA (Association The Master of SATU A-- ini nama kelas ketika dibaca berulang kali kesannya menyombong banget *plak*) yang punya dewa untuk seluruh pelajaran, *sujud ke Nila Purnama Sari.*-- well lupakan soal Nila dan segala kecerdasannya itu.


X A .
LOCATION : BELAKANG MUSHOLA (Entah kenapa kami semacam disuruh bertaubat dalam-dalam sebelum peristiwa....razia hape besar-besaran. Dan itu lagi boom-ing banget pas di jaman satu SMA yang tidak jelas tujuannya untuk apa. Dan sekarang? HELL-O PAK, MINTA PIN NYA DONG! *plak*)


One day, Istirahat siang. Kesialan aku. DAN JANGAN ADA YG KETAWA ! *rajam*
Dan Video itu di Rekam sama korban sebelumnya Susi Handayani. Betapa lugunya saat itu, disela perekaman video tolol ini terselip percakapan yang aku sadur langsung dari blognya Dian Iriana.
Aku    :  (histeris) ahhhahhh!! ahhh!!!
Gurls   : (ngakak liat kejadian itu plus puas karena berhasil masukin aku)
Aku     : (tetep histeris) ahh!! ahh! (hampir nangis)
Viona  : "woi keluarin" (oh vio dari dulu emg like an angel deh)
Cipang : "tunggu aku mau rekam dulu" (SUSI HANDAYANI !)
Dian    : (setuju dengan Viona) "iya, keluarin"
Gurls : "hahahahahah!!!"
Aku : "aaaahhhhhh!!!!" -___________--- ga ngerti.
Dan tukang pukul yang masukin aku ke lemari sempit itu........ ah, biarlah. Biarlah, jangan pernah ada yang tau bahwa yang masukin aku kedalam tempat kecil bak liang lahat itu Haqga.


Cerita tak sampai situ aja. Satu tahun bersama satu A itu kayak surga dalam neraka. Berkali-kali disiksa tapi tetep aja betah. Disiksa, di-bully, di hina bina, bahkan sempat membuat semacam geng yang anggotanya satu kelas -__- (ini bukan Geng deh kayaknya) dan mempunya hak milik berupa tong sampah berlabel 13 dan (lagi) tempat kongkow yang tempatnya mirip jamur-jamuran (yang smanti pasti tau), dan (lagi) semua hak milik itu berupa INVENTARIS SEKOLAH. FYI deh ya, sewaktu polos dan tanpa dosanya, kita punya permainan semacam permainan anak tolol tapi nagih. TAMPAR-TAMPARAN. OK! ga mau bahas lagi (sering jadi korban).


ttd, Indah Febriyanti - Bendahara X A
=========================================================================

KELAS DUA IPA DUA.
LOCATION : SAMPING KANTIN AYAH MANAP. (surga banget ga sih??)


Berikut seputar tentang DUA IPA DUA :
Ini wali kelas XI IPA II, Bertindak sebagai guru biologi. Dan foto ini? Sebagai salah satu praktek doi. (astagaaa)


Bukankah ini sudah cukup menjelaskan bagaimana tingkah murid ini? Dan......


Oh iya! ini mengingatkan kepada kita semua bahwa mati itu bisa dialami oleh siapa saja. Ini lah gunanya praktek agama, lalu....
...lalu, kenapa ini berubah menjadi foto alay? BAH! Ini sesuatu sekali -___----

CUKUP ! DUA IPA DUA TIDAK SEPERTI ITU. TUTUP BUKU.

ttd, Indah Febriyanti- Bendahara IPA satu.
=========================================================================

TIGA IPA TIGA 
LOCATION: LANTAI DUA, POJOK KIRI ATAS KANTIN. (surga part II)


Kalau berbicara soal kelas ini? TIDAK ADA YANG BISA DI BICARAKAN SELAIN BERSENANG-SENANG *plak*. Salah ya? Tidak kok. Ini kelas emang kalo senang apa susah pasti bawaannya senang mulu. Mungkin karena ada aku, yang bertindak jadi bendahara unyu-unyu. Oh yeaa.. Tidak ada yang mau mendekat kalo aku udah teriak "KAAAAASS KAAASS KAAASSS!!" 

Kelas tiga itu kenapa ya harus digembar-gemborkan dengan Ujian Nasional? Pelajaran hariannya cuma berkisar soal 6 pelajaran yg di UN-kan! Neraka ga tuh ? Pagi MTK, tengah hari FISIKA, siang KIMIA. Besoknya, pagi BIOLOGI, tengah hari BAHASA, siang ENGLISH. Yang lebih parah pemantapan hari jumat. DARI PAGI SAMPE SORE ITU KIMIA. Oh pak Adiii, oh pak Adi....

Berikut kegiatan ditengah penyiksaan tersebut.

oohh, under my Umberella, ella~ ella~ eh eh under my Umberellaa~ eh eh e eh..

CUKUP!!! IPA TIGA TIDAK BEGITU.

Wingardium Leviosa.... -__________-

TIDAK!!! IPA TIGA ENGGA KAYAK GITU.

Gottham City, is in danger... (featuring new weapon.)

CUKUP!! IPA TIGA TIDAK SEPERTI ITU !!!

Dan ini..........

Yang kalian lihat hanya ilusi belaka..

"ibuuukk Teguh buuukk, Teguh yang pecahin gentengnyaaa.. Teguh buuukk.
Gara-gara Teguh, sekelas harus bayar genteng." *tendang bokong Teguh*
Indah- Bendahara IPA 3
S.E.K.I.A.N

P.S: JANGAN ADA YANG KASIH TAU IBU LILI ATO PAK TOGAP ATAS VIDEO DIATAS !!

Tertanda, Indah Febriyanti. 

Selaku : Bendahara XA, Bendahara XI IPA II, Bendahara XII IPA III
(INI PENEGASAN KALAU AKU PERNAH JADI BENDAHARA SELAMA 3 TAHUN)