Mayoritas dalam pemikirannya siang itu adalah bagaimana dia bisa menghadiri kelas dan menghadapi anak-anak Slytherin. Oh, mungkin dia akan bertemu bocah berambut pirang disitu, Leon hanya penasaran apakah bocah tersebut sangat penasaran dengan keadaan Leon belakangan ini, atau tetap berpura-pura tidak ingin mengetahui kabar dirinya? (Liam, kau sungguh akan mati jika berpikiran begitu).
Kamis, 14.00.
Pendidikan Tongkat Sihir Dasar. Yah, mungkin Professor akan mengajari bagaimana mengayunkan tongkat sihir, bermain-main dengan dengan sihir, atau membagikan tongkat sihir? Leon tak terlihat begitu tertarik, kehadirannya di kelas tentu tidak akan di sadari siapapun, anggap saja memang begitu tingkahnya. Suka berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Saat kakinya melangkah masuk, tanpa ada satu kata yang terlontar dari bibirnya, dia duduk di kursi paling belakang. Menghindari aktifitas kelas? Tidak sepertinya. Cuma saja, jika dia sudah cukup muak dengan topik kelas ini, mungkin dia akan melangkah keluar. Seperti biasa, tanpa di ketahui yang lainnya.
"Mayoritas dari kalian berasal dari keluarga penyihir jadi saya asumsikan kalian sudah tahu apa itu tongkat sihir."—tongkat sihir? Itu yang selalu menjadi hidupmu bukan? Selain nyawa yang melekat di badanmu, tentu saja. Seluruh anggota masonnya mayoritas adalah penyihir, bahkan Louis tidak mau memperbudak pekerjanya, kalau tidak memiliki latar belakang keluarga penyihir. Louis. Entah mengapa Leon begitu mirip dengan ayahnya, selain sifat temperamental yang sering berubah-ubah itu.
“Menurut saya, mengapa tongkat sihir itu dikatakan penting adalah karena tongkat sihir itu sendiri adalah ciri khas penyihir. Tanpa tongkat sihir, penyihir bukanlah penyihir, karena penyihir tidak dapat menyihir tanpa tongkat sihir—well, walaupun ada yang namanya Sihir Tak Disengaja—tapi, seperti yang dikatakan Sutton, tongkat sihir itu seperti...,”—oh, mengapa begitu berbelit? Seorang Politikus Ravenclaw? Leon mendongak, memandang bocah lelaki itu, ternyata di kelas Slytherin ada pemuka politik ya? Senyumnya tipis. Dia tidak bermaksud begitu, hanya saja Leon memang begitu.
Setelah mendengarkan jawaban impulsif dari bocah Slytherin, yang dia yakini itu adalah David Hogg, mendengar jawaban ringan teman asramanya Galadriel Wardlaw, tidak cukupkah Professor di depan ini merekap semua pernyataan? Haruskah Leon mengacungkan tangannya juga, memberi pendapat yang sama? Kegitan ini harus dia ulangi berkali-kali agar terlihat seperti anak sekolahan—memang seharusnya begitu.
“Please, Sir.” Tangannya mengudara, “Sihir, adalah salah satu hal yang tidak bisa kita kontrol dengan tangan kosong. Penggunaannya bisa saja fatal bahkan untuk penyihir yang sudah berpengalaman sekalipun. Maka itulah, kenapa tongkat sihir adalah bagian paling fundamental bagi para penyihir. Mungkin benar apa yang di katakan Miss—“dia tidak mengenali gadis itu—“bahwa, setiap dari kita di ruangan ini pernah melakukan Sihir-Tak-Disengaja. Yang sekali lagi—“ Leon mearik napas pelan.”—mungkin bisa menyebabkan kerugian. Bukan maksud membenarkan, tapi Professor, tongkat sihir adalah salah satu substansi yang paling dibutuhkan, tidak hanya kekuatan yang berbeda terkandung didalamnya, tapi karena memang setiap penyihir membutuhkan tongkat sihir.” Seperti udara. Leon menatap datar Miss.Wardlaw.
“Leonard Lightdarker. Huffl—“ napasnya tersengal, kalimatnya tercekat di batang tenggorokannya, masih saja mengingat sorting hat saat dia mengucapkan asrama ini, “—Hufflepuff, Sir.”
Lightdarker, Leonard.











