Jumat, 30 Maret 2012

Basic Wandlore (S,H)


Mayoritas dalam pemikirannya siang itu adalah bagaimana dia bisa menghadiri kelas dan menghadapi anak-anak Slytherin. Oh, mungkin dia akan bertemu bocah berambut pirang disitu, Leon hanya penasaran apakah bocah tersebut sangat penasaran dengan keadaan Leon belakangan ini, atau tetap berpura-pura tidak ingin mengetahui kabar dirinya? (Liam, kau sungguh akan mati jika berpikiran begitu).

Kamis, 14.00.

Pendidikan Tongkat Sihir Dasar. Yah, mungkin Professor akan mengajari bagaimana mengayunkan tongkat sihir, bermain-main dengan dengan sihir, atau membagikan tongkat sihir? Leon tak terlihat begitu tertarik, kehadirannya di kelas tentu tidak akan di sadari siapapun, anggap saja memang begitu tingkahnya. Suka berjalan tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Saat kakinya melangkah masuk, tanpa ada satu kata yang terlontar dari bibirnya, dia duduk di kursi paling belakang. Menghindari aktifitas kelas? Tidak sepertinya. Cuma saja, jika dia sudah cukup muak dengan topik kelas ini, mungkin dia akan melangkah keluar. Seperti biasa, tanpa di ketahui yang lainnya.

"Mayoritas dari kalian berasal dari keluarga penyihir jadi saya asumsikan kalian sudah tahu apa itu tongkat sihir."—tongkat sihir? Itu yang selalu menjadi hidupmu bukan? Selain nyawa yang melekat di badanmu, tentu saja. Seluruh anggota masonnya mayoritas adalah penyihir, bahkan Louis tidak mau memperbudak pekerjanya, kalau tidak memiliki latar belakang keluarga penyihir. Louis. Entah mengapa Leon begitu mirip dengan ayahnya, selain sifat temperamental yang sering berubah-ubah itu.

“Menurut saya, mengapa tongkat sihir itu dikatakan penting adalah karena tongkat sihir itu sendiri adalah ciri khas penyihir. Tanpa tongkat sihir, penyihir bukanlah penyihir, karena penyihir tidak dapat menyihir tanpa tongkat sihir—well, walaupun ada yang namanya Sihir Tak Disengaja—tapi, seperti yang dikatakan Sutton, tongkat sihir itu seperti...,”—oh, mengapa begitu berbelit? Seorang Politikus Ravenclaw? Leon mendongak, memandang bocah lelaki itu, ternyata di kelas Slytherin ada pemuka politik ya? Senyumnya tipis. Dia tidak bermaksud begitu, hanya saja Leon memang begitu.

Setelah mendengarkan jawaban impulsif dari bocah Slytherin, yang dia yakini itu adalah David Hogg, mendengar jawaban ringan teman asramanya Galadriel Wardlaw, tidak cukupkah Professor di depan ini merekap semua pernyataan? Haruskah Leon mengacungkan tangannya juga, memberi pendapat yang sama? Kegitan ini harus dia ulangi berkali-kali agar terlihat seperti anak sekolahan—memang seharusnya begitu.

“Please, Sir.” Tangannya mengudara, “Sihir, adalah salah satu hal yang tidak bisa kita kontrol dengan tangan kosong. Penggunaannya bisa saja fatal bahkan untuk penyihir yang sudah berpengalaman sekalipun. Maka itulah, kenapa tongkat sihir adalah bagian paling fundamental bagi para penyihir. Mungkin benar apa yang di katakan Miss—“dia tidak mengenali gadis itu—“bahwa, setiap dari kita di ruangan ini pernah melakukan Sihir-Tak-Disengaja. Yang sekali lagi—“ Leon mearik napas pelan.”—mungkin bisa menyebabkan kerugian. Bukan maksud membenarkan, tapi Professor, tongkat sihir adalah salah satu substansi yang paling dibutuhkan, tidak hanya kekuatan yang berbeda terkandung  didalamnya, tapi karena memang setiap penyihir membutuhkan tongkat sihir.” Seperti udara. Leon menatap datar Miss.Wardlaw.

“Leonard Lightdarker. Huffl—“ napasnya tersengal, kalimatnya tercekat di batang tenggorokannya, masih saja mengingat sorting hat saat dia mengucapkan asrama ini, “—Hufflepuff, Sir.”

 Lightdarker, Leonard.


Minggu, 25 Maret 2012

HOGWARTS HOUSE



Gryffindor
Gryffindors are often those blogs that you see adding their own commentary to every post they make, original or reblogged. They often do this within the actual post itself, rather than in the tags, because that makes it more clear, and that is what they want. Gryffindors want to be noticed, and they want their opinions shared, and blogging is a very simple way to do that. Gryffindors are also very commonly reblogging about issues they care about, and doing this constantly and without any shame. Their strong values come into play with this, and they are this way not only with real life issues but with fandom. If they love a specific movie, ship, or what have you, they will show it; if you feel the need to bash that thing on their dash, you’ll never hear the end of it. Gryffindors being social, also want to have many followers and recognition. Not necessarily to have the most followers (though they appreciate that a lot, also), but because they enjoy having a large array of people in which to speak with. 

Hufflepuff
Not unlike Gryffindors, what you find on the blog of a Hufflepuff will be what you would find in their heart. They are things they care about, issues or things that may seem trivial but have some form of deeper meaning to them. They will often not express this meaning in a direct and blunt form, because they feel uncomfortable doing that. They mostly want their blog to be a welcoming place, and appreciate every follower they get because they feel as though their blog represents all that they enjoy, and through their followers they feel approval. That said, Hufflepuffs don’t pull punches either, and aren’t going to post about things they don’t care for, or vice versa not speak on things they are concerned with. Everything a hufflepuff does is a piece of them, and that includes blogging. Though they may not be quick to socialize with others, if you are to communicate through a hufflepuff via their blog, they will be incredibly friendly and welcoming to you.

Ravenclaw
Ravenclaw bloggers do not often let the ideas and views of others get in their way. Ravenclaws are naturally intellectual artists, and everything which they have is a canvas, including a blog. They may not have the busiest blog at times, because they don’t want to reblog or post everything in sight. If they enjoy it, it makes clear sense to them and they find it stimulating, then they will, but they think it through as they do with everything. They are not shy to give their opinions, but they are often a bit more blunt in this area than would be a Gryffindor or Hufflepuff. They will put their most notable points within a post, and leave the details either unsaid or in the tags. A blog to them is what is important, so they don’t want theirs to be at all trivial. Followers are not a large concern for them, but those that they do have they will treat with consideration and accommodation.

Slytherin
Aside from Gryffindors, many more well known blogs on tumblr are run by bloggers whom are Slytherins. This is due to not only their ambition, but their natural ability to impress. Slytherins are very sure to keep with their own ideas, but they will also glitter them to the fullest extent, making them appealing even to the most hesitant of persons. This makes them have a draw that many others enjoy. Slytherins are as strongly into saying what they think as are Gryffindors, however they are a bit more subtle about it. You will often find snakes with a swarm of tags under their posts, because that is where they would rather vent instead of cover a post with words; this counts even more so if said post is a graphic or photoset. Aesthetics is a very pleasant thing, and this means a Slytherin blogger will often be well organize and have everything looking clean and precise. Slytherins enjoy having plenty of followers because it makes them feel more sure in themselves, though they also have no problem losing some if it is for good reason. They have a hard time sugar coating things, but they still do appreciate those who are kind to them, and try to be as cordial as possible. 

source: click

Our Deepest Desire

Baginya, bertemu seseorang disaat seperti ini, tidaklah sebuah malapetaka. Pagi itu masih dingin, dan kabut perlahan menipis. Matahari sedikit merona, Leon memejamkan matanya. Mungkin sangat epik, kalau saja Leon membuka matanya, dan yang dia lalui beberapa minggu ini adalah mimpi buruknya yang sedikit manis. Leon tertawa hambar, ketika matanya terbuka sosok pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah bocah itu. Sungguh dia benci kenyataan seperti ini.

Apa yang dia rasakan, mungkin sedang Lex rasakan. Atau bocah ini sedang tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak berbicara. Leon sangat menghormati seseorang yang sedang membutuhkan teman bicara. Hanya saja Leon bukan seseorang yang mampu memberikan saran yang baik tentang kehidupan. Lexus memamerkan wajah tanpa ekspresi. Setiap air wajahnya tergurat pertanyaan yang tak mampu Leon tebak. Ah! Seorang Lexus, tidak mungkin berekspresi seperti ini, dia mengingat tempo lalu, Lexus lah yang paling bersemangat melayani perbincangan gadis-gadis di common room asramanya. Tidak, tidak. Siapa bocah ini? Leon menatap Lexus dengan tatapan datar sejenak, pandangannya di lemparkan jauh kearah danau yang pekat. Sangat pekat. Leon tertawa kecil. Apakah tidak cukup baginya selama ini?

"Apakah keinginan terdalam mu?"

DEG…

Leon tersentak. Wajahnya berubah dingin, tatapannya kosong. Pemikirannya campur aduk, antara mau menjawab pertanyaan tak mendasar itu dan mau meninggalkan bocah ini sendiri dengan pertanyaan yang mengambang di udara lembab ini. Leon memutarkan badannya, beralih menatap bocah itu dalam. Sungguh kenapa dia menemukan bocah yang mengajukan pertanyaan seperti itu di pagi minggu?

“Entahlah… aku—“
Tenggorakannya tercekat, seperti ada ruang hampa udara di dalamnya. Dia tak mampu meneruskan jawabannya sementara. “—aku tidak mengerti maksudmu, Lex. Ada begitu banyak keinginanku, selama hidup ini. Begitu banyak pencapaian yang aku raih, dengan mudah. Tapi, aku masih tidak mengetahui apa keinginan terdalamku.” Leon mengalihkan pandangannya, dia tidak mau menatap manik itu, manik yang terpaku pada wajah Leon. Wajah yang memanerkan kelemahan yang dia sembunyikan.

“kau—kenapa?” kalimat itu terlihat datar, dan seadanya. Leon tau pasti, Lex mungkin tidak mengharapkan kehadirannya disini. Tapi, mereka sedang berbicara sekarang. Tepat disaat matahari mulai merona malu.

Jembatan,
TimeLine: Minggu, 13 September 1975
Pukul 05.55 am

Jumat, 16 Maret 2012

Seleksi Asrama

Melalui tiga jam dengan segala rangkaian kegiatan yang tidak bisa kau bayangkan sebelumnya adalah melelahkan. Tampilannya tak serapi saat pintu terowongan tertutup, jubahnya kusut di bagian lengan, surai coklatnya terjatuh lemas; begitu pula dirinya, lemas setelah menghadapi terowongan gelap gulita, lemas setelah menjadi buta dan tuli selama satu menit yang ia anggap sebagai satu menit didalam neraka. Dan lemas melakukan perjalanan untuk sampai ke kastil.

Dan kini? Dia hanya berdiri ditengah-tengah sekumpulan bocah yang menunggu namanya dipanggil, membahana seantero aula. Pandangannya tersapu ke seluruh penjuru aula, matanya menatap langit-langit indah yang terbentang. Langit-langit aula membentangkan pemandangan yang jernih, terlihat begitu nyata seperti di luar kastil yang megah. Lalu pandangannya terpaku pada meja-meja kayu yang panjang, namun tidak pada penghuni yang menempati meja panjang itu, tidak menarik perhatiannya sama sekali. Pandangan datarnya kembali menyapu seluruh makhluk hidup di depannya, mengapa semua orang terlihat sama sekali tidak menarik baginya? Bukankah sang Head Master terlihat begitu kharismatik untuk disimak pidatonya tentang seleksi murid-murid baru? Entahlah, yang ada dalam setiap cairan otaknya hanya merebahkan tubuh dan memejamkan matanya, bermain-main di alam bawah sadar, bertemu sosok lain, dan terbangun di kediamannya bertemu dengan orang yang dikenalnya; tidak, tidak seperti orang-orang ini. Pandangannya kembali menatap datar, kembali bertingkah menjadi pendengar yang baik.

Satu-per-satu calon murid telah dipanggil, oleh siapa? Topi ? Baiklah, oleh topi. Disebelahnya, Lightdarker muda lainnya—William, berdiri sedikit panik. Entah apa yang ada di dalam tempurung kepala bocah itu, matanya nanar menatap satu per satu murid yang berdiri di dekatnya, termasuk Leon dan korban lainnya adalah si blonde bayaran. Leon tak mau menatap sepupunya yang mengenaskan itu, korban ruangan sempit. Dia kembali menatap sepatunya yang sedikit berdebu, menanti nama Lightdarker disebut-sebut. Bosan. Bosan mendengar bisikan halus calon murid lainnya, menceritakan bagaimana nanti kau akan terpilih. Bosan mendengarkan kepanikan sunyi dari gerak-gerik sepupunya. Bosan berdiri seperti seorang pengawal yang menunggu majikannya latihan memanah. Leon hanya menatap datar. Pandangannya kosong, sesekali dia bertepuk tangan pelan, mengikuti gemuruh berpuluh-puluh pasang tepuk tangan yang membahana aula besar.

“Lightdarker, — “
Kakinya bergesar satu senti, menegakkan kepala, dan senyumnya tipis. Bahagia meninggalkan kerumunan calon murid, Leon kembali dengan wajah dinginnya..

“—William Andreas.”

Leon menatap William tanpa kedip. Sepupunya meninggalkannya di tengah kerumunan ini? Yang benar saja. Leon meringis kesal. Harus berapa lama dia berdiri seperti ini? Memikirkan bagaimana kerja topi seleksi—membaca pikiran? Mau menilik yang ada di kepala Leon saat ini? Silahkan. Tidak menutup kemungkinan saat topi seleksi membaca pikirannya, yang ada hanya kasur dan busur panahnya.

“Lightdarker, Leonard Keanu Lyne.”

Finally” Leon memantapkan langkahnya, berjalan dengan langkah sedikit di percepat. Mematrikan wajah datar dan angkuh. Alih-alih matanya terpaku kepada seseorang disana, menarik perhatiannya. Topi itu berada tepat diatas kepalanya, mungkin sedang mengintrogasi setiap cairan dalam otak Lightdarker muda ini. Pikirannya berputar keras, seperti menampilkan seluruh foto kenangan, begitu banyak sejarah. Sejarah tentang Hogwarts, empat pendiri agung yang selalu menjadi cerita yang di ulang-ulang oleh kedua orang tuanya. Sejarah tentang seseorang yang memiliki watak bijak. Sejarah Lightdarker.

Cepatlah. Jangan kau menempatkan aku di asrama yang tidak aku inginkan. Yang aku butuhkan hanya ruangan yang cukup tenang untuk tidak mendengar seluruh omong kosong ini, lagi.


 that there is no way to rationalize