Jumat, 19 Agustus 2011

Bagaimana jika?

Tidak pernah berpikir untuk merasa sedikit peduli dengan hingar-bingar modernisasi ini dan itu. Iya. Tidak pernah peduli. Bagaimana jika modernisasi yang membawa kamu selalu melintasi batas terjauh kehidupan? Hanya pola pikir yang sedikit extreme menurutku. Iya. Menurut aku.


Bocah-bocah yang cenderung terpengaruh, selalu menganggap ini dan itu serta segala macamnya WAH!
BENAR? atau SALAH? Hanya entitas yang memiliki pola pikir yang tidak statis yang menganggap topik ini TIDAK PENTING. IYA. TIDAK PENTING. Atau semacam entitas yang cenderung memiliki pola pikir subjektif? yang tidak pernah memikirkan bagaimana plot kehidupan itu ada. Bagaimana jika aku yang cenderung menganggap ini sepele? TIDAK PENTING.


Topik yang mem-booming itu adalah percintaan, SIAPA YANG TIDAK SETUJU? Kau? Atau kau?.
Ini dan itu, sedikit cinta, sedikit perselingkuhan, sedikit perceraian, dan sedikit pengkhianatan. Dan selalu menitik beratkan kepada pengorbanan. Cih. Pengorbanan seperti apa? Pengorbanan yang selalu kau anggap itu adalah jalan terbaik, lantas membiarkan satu atau dua permasalahan terselesaikan (menurutmu?) tanpa adanya solusi dikemudian hari? Persetan dengan pengorbanan. Aku lebih menganggapnya dengan kamuflase pelarian dari sisi pengecut yang tidak pernah timbul di raut wajah kau, mereka, bahkan kalian.


Iya. Itu yang ditimbulkan oleh percintaan yang cenderung membuat seseorang hilang dari grafitasi bumi. Mengharapkan bulan terus purnama, sehingga bisa bercakap-cakap santai tanpa ada yang menggangu dari balik jendela usang. Lalu memaksa  bulan terus menyunggingkan kurva terbuka sehingga melahirkan senyum palsu ketika kau membayangkan wajahnya. Berdiam diri dan terus menatap wajah berbingkai itu di pojok meja yang mumut ketika rindu terus melolong tanpa henti. Cih. Iya. SEBUAH KEGILAAN. Menurut siapa? Aku? Kamu? Mereka? atau Kalian?


Bagaimana jika ini hanya sebuah fatamorgana yang tidak bisa kau sentuh sedikitpun kamuflase kebahagiaanya? 
Bagaimana jika ini hanya hingar-bingar pelengkap untuk melubangi jalan hidupmu sehingga akan merasakan guncangan setiap rodamu berputar?
Dan bagaimana jika percintaan itu adalah sesuatu yang nista dan tidak patut untuk kau perjuangkan?


Yayayaya, mungkin hujatan akan pertanyaan sekilas tadi. Persetan dengan 'bagaimana jika?'.
Aku hanya enggan merapalkan tiap huruf nama itu ketika rindu kembali melolong. cih. Kembali, aku cuma sebagai entitas yang masih memunafikkan akan perjalanan yang tidak tentu ini (bilang saja aku korban dari kata percintaan). Dan tidak mau menyisipkan kata-kata percintaan yang cenderung melahirkan luka menganga ketika aku mendekatinya. Iya. LUKA. Lantas???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar