On New Indohogwarts:
Melalui tiga jam dengan segala rangkaian kegiatan yang tidak bisa kau bayangkan sebelumnya adalah melelahkan. Tampilannya tak serapi saat pintu terowongan tertutup, jubahnya kusut di bagian lengan, surai coklatnya terjatuh lemas; begitu pula dirinya, lemas setelah menghadapi terowongan gelap gulita, lemas setelah menjadi buta dan tuli selama satu menit yang ia anggap sebagai satu menit didalam neraka. Dan lemas melakukan perjalanan untuk sampai ke kastil.
Dan kini? Dia hanya berdiri ditengah-tengah sekumpulan bocah yang menunggu namanya dipanggil, membahana seantero aula. Pandangannya tersapu ke seluruh penjuru aula, matanya menatap langit-langit indah yang terbentang. Langit-langit aula membentangkan pemandangan yang jernih, terlihat begitu nyata seperti di luar kastil yang megah. Lalu pandangannya terpaku pada meja-meja kayu yang panjang, namun tidak pada penghuni yang menempati meja panjang itu, tidak menarik perhatiannya sama sekali. Pandangan datarnya kembali menyapu seluruh makhluk hidup di depannya, mengapa semua orang terlihat sama sekali tidak menarik baginya? Bukankah sang Head Master terlihat begitu kharismatik untuk disimak pidatonya tentang seleksi murid-murid baru? Entahlah, yang ada dalam setiap cairan otaknya hanya merebahkan tubuh dan memejamkan matanya, bermain-main di alam bawah sadar, bertemu sosok lain, dan terbangun di kediamannya bertemu dengan orang yang dikenalnya; tidak, tidak seperti orang-orang ini. Pandangannya kembali menatap datar, kembali bertingkah menjadi pendengar yang baik.
Satu-per-satu calon murid telah dipanggil, oleh siapa? Topi ? Baiklah, oleh topi. Disebelahnya, Lightdarker muda lainnya—William, berdiri sedikit panik. Entah apa yang ada di dalam tempurung kepala bocah itu, matanya nanar menatap satu per satu murid yang berdiri di dekatnya, termasuk Leon dan korban lainnya adalah si blonde bayaran. Leon tak mau menatap sepupunya yang mengenaskan itu, korban ruangan sempit. Dia kembali menatap sepatunya yang sedikit berdebu, menanti nama Lightdarker disebut-sebut. Bosan. Bosan mendengar bisikan halus calon murid lainnya, menceritakan bagaimana nanti kau akan terpilih. Bosan mendengarkan kepanikan sunyi dari gerak-gerik sepupunya. Bosan berdiri seperti seorang pengawal yang menunggu majikannya latihan memanah. Leon hanya menatap datar. Pandangannya kosong, sesekali dia bertepuk tangan pelan, mengikuti gemuruh berpuluh-puluh pasang tepuk tangan yang membahana aula besar.
“Lightdarker, — “
Kakinya bergesar satu senti, menegakkan kepala, dan senyumnya tipis. Bahagia meninggalkan kerumunan calon murid, Leon kembali dengan wajah dinginnya..
“—William Andreas.”
Leon menatap William tanpa kedip. Sepupunya meninggalkannya di tengah kerumunan ini? Yang benar saja. Leon meringis kesal. Harus berapa lama dia berdiri seperti ini? Memikirkan bagaimana kerja topi seleksi—membaca pikiran? Mau menilik yang ada di kepala Leon saat ini? Silahkan. Tidak menutup kemungkinan saat topi seleksi membaca pikirannya, yang ada hanya kasur dan busur panahnya.
“Lightdarker, Leonard Keanu Lyne.”
“Finally” Leon memantapkan langkahnya, berjalan dengan langkah sedikit di percepat. Mematrikan wajah datar dan angkuh. Alih-alih matanya terpaku kepada seseorang disana, menarik perhatiannya. Topi itu berada tepat diatas kepalanya, mungkin sedang mengintrogasi setiap cairan dalam otak Lightdarker muda ini. Pikirannya berputar keras, seperti menampilkan seluruh foto kenangan, begitu banyak sejarah. Sejarah tentang Hogwarts, empat pendiri agung yang selalu menjadi cerita yang di ulang-ulang oleh kedua orang tuanya. Sejarah tentang seseorang yang memiliki watak bijak. Sejarah Lightdarker.
Dan kini? Dia hanya berdiri ditengah-tengah sekumpulan bocah yang menunggu namanya dipanggil, membahana seantero aula. Pandangannya tersapu ke seluruh penjuru aula, matanya menatap langit-langit indah yang terbentang. Langit-langit aula membentangkan pemandangan yang jernih, terlihat begitu nyata seperti di luar kastil yang megah. Lalu pandangannya terpaku pada meja-meja kayu yang panjang, namun tidak pada penghuni yang menempati meja panjang itu, tidak menarik perhatiannya sama sekali. Pandangan datarnya kembali menyapu seluruh makhluk hidup di depannya, mengapa semua orang terlihat sama sekali tidak menarik baginya? Bukankah sang Head Master terlihat begitu kharismatik untuk disimak pidatonya tentang seleksi murid-murid baru? Entahlah, yang ada dalam setiap cairan otaknya hanya merebahkan tubuh dan memejamkan matanya, bermain-main di alam bawah sadar, bertemu sosok lain, dan terbangun di kediamannya bertemu dengan orang yang dikenalnya; tidak, tidak seperti orang-orang ini. Pandangannya kembali menatap datar, kembali bertingkah menjadi pendengar yang baik.
Satu-per-satu calon murid telah dipanggil, oleh siapa? Topi ? Baiklah, oleh topi. Disebelahnya, Lightdarker muda lainnya—William, berdiri sedikit panik. Entah apa yang ada di dalam tempurung kepala bocah itu, matanya nanar menatap satu per satu murid yang berdiri di dekatnya, termasuk Leon dan korban lainnya adalah si blonde bayaran. Leon tak mau menatap sepupunya yang mengenaskan itu, korban ruangan sempit. Dia kembali menatap sepatunya yang sedikit berdebu, menanti nama Lightdarker disebut-sebut. Bosan. Bosan mendengar bisikan halus calon murid lainnya, menceritakan bagaimana nanti kau akan terpilih. Bosan mendengarkan kepanikan sunyi dari gerak-gerik sepupunya. Bosan berdiri seperti seorang pengawal yang menunggu majikannya latihan memanah. Leon hanya menatap datar. Pandangannya kosong, sesekali dia bertepuk tangan pelan, mengikuti gemuruh berpuluh-puluh pasang tepuk tangan yang membahana aula besar.
“Lightdarker, — “
Kakinya bergesar satu senti, menegakkan kepala, dan senyumnya tipis. Bahagia meninggalkan kerumunan calon murid, Leon kembali dengan wajah dinginnya..
“—William Andreas.”
Leon menatap William tanpa kedip. Sepupunya meninggalkannya di tengah kerumunan ini? Yang benar saja. Leon meringis kesal. Harus berapa lama dia berdiri seperti ini? Memikirkan bagaimana kerja topi seleksi—membaca pikiran? Mau menilik yang ada di kepala Leon saat ini? Silahkan. Tidak menutup kemungkinan saat topi seleksi membaca pikirannya, yang ada hanya kasur dan busur panahnya.
“Lightdarker, Leonard Keanu Lyne.”
“Finally” Leon memantapkan langkahnya, berjalan dengan langkah sedikit di percepat. Mematrikan wajah datar dan angkuh. Alih-alih matanya terpaku kepada seseorang disana, menarik perhatiannya. Topi itu berada tepat diatas kepalanya, mungkin sedang mengintrogasi setiap cairan dalam otak Lightdarker muda ini. Pikirannya berputar keras, seperti menampilkan seluruh foto kenangan, begitu banyak sejarah. Sejarah tentang Hogwarts, empat pendiri agung yang selalu menjadi cerita yang di ulang-ulang oleh kedua orang tuanya. Sejarah tentang seseorang yang memiliki watak bijak. Sejarah Lightdarker.
Cepatlah. Jangan kau menempatkan aku di asrama yang tidak aku inginkan. Yang aku butuhkan hanya ruangan yang cukup tenang untuk tidak mendengar seluruh omong kosong ini, lagi.
that there is no way to rationalize

Tidak ada komentar:
Posting Komentar