Baginya, bertemu seseorang disaat seperti ini, tidaklah sebuah malapetaka. Pagi itu masih dingin, dan kabut perlahan menipis. Matahari sedikit merona, Leon memejamkan matanya. Mungkin sangat epik, kalau saja Leon membuka matanya, dan yang dia lalui beberapa minggu ini adalah mimpi buruknya yang sedikit manis. Leon tertawa hambar, ketika matanya terbuka sosok pertama yang tertangkap oleh pandangannya adalah bocah itu. Sungguh dia benci kenyataan seperti ini.
Apa yang dia rasakan, mungkin sedang Lex rasakan. Atau bocah ini sedang tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak berbicara. Leon sangat menghormati seseorang yang sedang membutuhkan teman bicara. Hanya saja Leon bukan seseorang yang mampu memberikan saran yang baik tentang kehidupan. Lexus memamerkan wajah tanpa ekspresi. Setiap air wajahnya tergurat pertanyaan yang tak mampu Leon tebak. Ah! Seorang Lexus, tidak mungkin berekspresi seperti ini, dia mengingat tempo lalu, Lexus lah yang paling bersemangat melayani perbincangan gadis-gadis di common room asramanya. Tidak, tidak. Siapa bocah ini? Leon menatap Lexus dengan tatapan datar sejenak, pandangannya di lemparkan jauh kearah danau yang pekat. Sangat pekat. Leon tertawa kecil. Apakah tidak cukup baginya selama ini?
"Apakah keinginan terdalam mu?"
DEG…
Leon tersentak. Wajahnya berubah dingin, tatapannya kosong. Pemikirannya campur aduk, antara mau menjawab pertanyaan tak mendasar itu dan mau meninggalkan bocah ini sendiri dengan pertanyaan yang mengambang di udara lembab ini. Leon memutarkan badannya, beralih menatap bocah itu dalam. Sungguh kenapa dia menemukan bocah yang mengajukan pertanyaan seperti itu di pagi minggu?
“Entahlah… aku—“
Tenggorakannya tercekat, seperti ada ruang hampa udara di dalamnya. Dia tak mampu meneruskan jawabannya sementara. “—aku tidak mengerti maksudmu, Lex. Ada begitu banyak keinginanku, selama hidup ini. Begitu banyak pencapaian yang aku raih, dengan mudah. Tapi, aku masih tidak mengetahui apa keinginan terdalamku.” Leon mengalihkan pandangannya, dia tidak mau menatap manik itu, manik yang terpaku pada wajah Leon. Wajah yang memanerkan kelemahan yang dia sembunyikan.
“kau—kenapa?” kalimat itu terlihat datar, dan seadanya. Leon tau pasti, Lex mungkin tidak mengharapkan kehadirannya disini. Tapi, mereka sedang berbicara sekarang. Tepat disaat matahari mulai merona malu.
Apa yang dia rasakan, mungkin sedang Lex rasakan. Atau bocah ini sedang tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak berbicara. Leon sangat menghormati seseorang yang sedang membutuhkan teman bicara. Hanya saja Leon bukan seseorang yang mampu memberikan saran yang baik tentang kehidupan. Lexus memamerkan wajah tanpa ekspresi. Setiap air wajahnya tergurat pertanyaan yang tak mampu Leon tebak. Ah! Seorang Lexus, tidak mungkin berekspresi seperti ini, dia mengingat tempo lalu, Lexus lah yang paling bersemangat melayani perbincangan gadis-gadis di common room asramanya. Tidak, tidak. Siapa bocah ini? Leon menatap Lexus dengan tatapan datar sejenak, pandangannya di lemparkan jauh kearah danau yang pekat. Sangat pekat. Leon tertawa kecil. Apakah tidak cukup baginya selama ini?
"Apakah keinginan terdalam mu?"
DEG…
Leon tersentak. Wajahnya berubah dingin, tatapannya kosong. Pemikirannya campur aduk, antara mau menjawab pertanyaan tak mendasar itu dan mau meninggalkan bocah ini sendiri dengan pertanyaan yang mengambang di udara lembab ini. Leon memutarkan badannya, beralih menatap bocah itu dalam. Sungguh kenapa dia menemukan bocah yang mengajukan pertanyaan seperti itu di pagi minggu?
“Entahlah… aku—“
Tenggorakannya tercekat, seperti ada ruang hampa udara di dalamnya. Dia tak mampu meneruskan jawabannya sementara. “—aku tidak mengerti maksudmu, Lex. Ada begitu banyak keinginanku, selama hidup ini. Begitu banyak pencapaian yang aku raih, dengan mudah. Tapi, aku masih tidak mengetahui apa keinginan terdalamku.” Leon mengalihkan pandangannya, dia tidak mau menatap manik itu, manik yang terpaku pada wajah Leon. Wajah yang memanerkan kelemahan yang dia sembunyikan.
“kau—kenapa?” kalimat itu terlihat datar, dan seadanya. Leon tau pasti, Lex mungkin tidak mengharapkan kehadirannya disini. Tapi, mereka sedang berbicara sekarang. Tepat disaat matahari mulai merona malu.
Jembatan,
TimeLine: Minggu, 13 September 1975
Pukul 05.55 am
Pukul 05.55 am

Leon.. leon. *puk puk*
BalasHapus